Siborongborong – Disaat pemerintah membutuhkan lahan untuk program strategis pertanian terpadu, lahan yang dulunya wilayah kehutanan yang kini telah menjadi asset pemkab, lahan tersebut seperti nya hilang di telan bumi, hilang dimanfaatkan oleh sekelompok masyarakat dan mantan pejabat.
Diketahui lahan tersebut telah digarap bahkan diperjual belikan dan aneh nya sudah rata rata memiliki SHM dilahan tersebut.
Menurut keterangan sesuai peta hijau dari kehutanan lahan tersebut masih ada cuman sudah banyak pengklaiman kepemilikan dilahan hijau eks Kehutanan.
Hal ini Pemerintah menegaskan setelah hasil rapat forkopimda, KPH XIII dan Pihak BPN akan segera menngambil kembali sekitar 50 ha untuk kepentingan kebutuhan program strategis tersebut, Selasa (26/5/2026).
Namun yang menjadi pertanyan apakah setiap unsur dari masyarakat diundang dalam rapat tersebut?, salah satu masyarakat yang sudah di tokohkan di Desa terkait Tohap Simaremare.
Bangkit P Silaban, Dirut Perseroda Pertanian membenarkan hal program tersebut, saat berbincang bincang dengan para jurnalis di kedai partukkoan Warkopas siborongborong, mengatakan pandangannya terkait program itu sangat berpotensi untuk memajukan kabupaten Tapanuli Utara, karena dinilai wilayah tersebut sangat strategis kerana berdekatan dengan Bandara Silangit, Kamis (28/5/2026).
Bandara Sisingamangaraja XII silangit adalah pintu gerbang kedatangan Tamu negara ke wilayah Tapanuli Utara, selama ini Taput hanya menyambut kehadiran padahal kunjungan ke wilayah Kabupaten lain di sekitar Tapanuli Raya.
“Pengakuan dari beberapa warga sekitar juga merupakan penduduk asli turun temurun dari Desa wilayah lokasi hutan lindung Sijaba yang kini telah diketahui menjadi asset Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara juga membenarkan bahwa itu dulunya adalah milik kehutanan, herannya para penggarap yang disana kebanyakan mantan pejabat dan para mafia tanah dan orang dari luar daerah. Yang sangat disayangkan ini sebenarnya sudah sangat lama terjadi pembiaran, kami kira selama ini kami hanya sebagai penonton, karena sumber air yang dulunya mengairi persawahan kami telah di garap oleh mereka” ungkap R. Tampubolon.





