Konsultan Tuntas Hitung Hutang Suplier Koperasi, Erikson Sianipar Desak Pembayaran Suplier

Taput – Di tengah polemik pembayaran kepada supplier dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Erikson Sianipar menegaskan komitmennya untuk tetap fokus menjalankan program prioritas Pemerintah tersebut.

Program MBG diwilayah tidak hadir secara tiba tiba. Sejak 2025, Erikson Sianipar pionir implementasi program tersebut di Tapanuli dengan mengajak berbagai tokoh lokal untuk berkolaborasi. Upaya tersebut dimulai dengan operasional SPPG pertama di wilayah Tapanuli pada Mei 2025, yang kemudian berkembang dengan koperasi sebagai pemasok bahan baku.
Pada Juli 2025, Koperasi Produsen Multi Pihak Tumbuh Sejahtera Bersama Petani menjadi pemasok utama, menggantikan koperasi sebelumnya.

Bacaan Lainnya

Memasuki 2026, persoalan mulai muncul, biasanya dalam pertemuan bulanan suplier yang dihadiri Erikson Sianipar, suplier selalu ditanyakan apakah ada hutang koperasi namun para suplier selalu diam dan tidak ada yang mengeluh. Kalau ada yang mengeluh, Ketua Koperasi lama sering langsung memberhentikan yang bersangkutan sebagai Suplier.

Pada Februari 2026, pengawas koperasi menginisiasi audit untuk menata administrasi dan pelaporan keuangan sekaligus persiapan laporan SPT tahunan. Namun, proses tersebut tidak berjalan mulus. Dalam pelaksanaannya, pihak pengurus koperasi saat itu dinilai tidak kooperatif dalam penyediaan data yang dibutuhkan, termasuk jumlah hutang koperasi kepada Suplier.

Beberapa kali Konsultan minta data, tapi tidak pernah ditanggapi serius serius. Yang akhirnya menuntut Konsultan harus mencari data kesemua sumber dan tentu butuh waktu. Tidak mungkin bisa dibayar kalau hutangnya ke siapa, jumlah hutangnya berapa dan keabsahan hutang.

Kondisi tersebut memicu diterbitkannya surat peringatan, baik oleh konsultan maupun pengawas. Dalam proses audit, ditemukan adanya indikasi penyimpangan dalam pengelolaan yang berpotensi menimbulkan kerugian, termasuk terhadap para supplier yang belum menerima pembayaran secara penuh.

Situasi ini kemudian berujung pada Rapat Anggota Luar Biasa (RALB) pada akhir Maret 2026, yang secara resmi memberhentikan Ketua Koperasi Erni Hutauruk sebelumnya dan menunjuk kepemimpinan baru Hendra Sipahutar. Perubahan tersebut telah didaftarkan ke instansi terkait dan saat ini dalam proses administrasi lanjutan.

Ditengah dinamika tersebut, keluhan dari para supplier turut mengemuka. Sejumlah pihak menyampaikan bahwa pembayaran atas suplai bahan mengalami keterlambatan dan tidak sepenuhnya diselesaikan pada periode kepengurusan sebelumnya.

Pengurus lama, Erni Hutauruk lebih banyak berkoar koar diluar dengan adegan demo maupun pengerahan massa. Tidak ada indikasi keseriusan menyelesaikan masalah. Hal ini lah membuat kegaduhan di sosial media dan di masyarakat. Tidak tau apa tujuan sebenarnya.

Menanggapi hal itu, Erikson Sianipar menegaskan bahwa penyelesaian kewajiban kepada supplier menjadi prioritas dan dituntaskan, namun paralel langkah hukum tetap dilakukan.

Hendra Sipahutar, Ketua Koperasi baru menegaskan ketidaklengkapan data inventarisasi dari kepengurusan sebelumnya menjadi salah satu kendala utama dalam proses verifikasi pembayaran. Untuk itu, pihaknya memilih melakukan penataan data secara menyeluruh guna memastikan setiap kewajiban diselesaikan secara tepat dan akuntabel.

“Semua kewajiban akan diselesaikan, tetapi harus berdasarkan data yang valid agar tidak menimbulkan persoalan baru” ujar Hendra Sipahutar dalam rangkaian klarifikasi.

Ia juga menambahkan bahwa setelah laporan resmi Konsultan tentang jumlah hutang Koperasi yang sudah final, penyelesaian pembayaran akan dipercepat secara hingga tuntas.

Disisi lain, proses hukum terkait dugaan penyimpangan dalam pengelolaan koperasi juga tengah berjalan. Laporan yang telah diajukan saat ini dalam penanganan aparat penegak hukum sebagai bagian dari upaya memastikan transparansi dan akuntabilitas.

Meski dihadapkan pada berbagai dinamika, Erikson Sianipar menyatakan bahwa fokus utama tetap pada keberlanjutan program MBG. Baginya, program ini bukan sekadar distribusi makanan, tetapi bagian dari upaya membangun masa depan generasi kedepan.

Dalam konteks tersebut, stabilitas sistem, termasuk hubungan dengan supplier, menjadi elemen penting yang harus dibenahi secara menyeluruh.

Langkah pembenahan yang dilakukan saat ini, menurutnya, merupakan bagian dari proses untuk memastikan program berjalan lebih baik, transparan, dan berkelanjutan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *